Mengapa Suporter Harus Menolak RUU KUHP?Teman-teman Mahasiswa dari mayoritas Universitas di Jakarta turun ke jalan. Mereka sepakat untuk menolak beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diusulkan oleh Pemerintah, salah satunya RUU KUHP.

Dilansir dari Bola Nusantara, salah satu RUU KUHP yang ditolak oleh mahasiswa adalah mengenai wanita yang terlunta-lunta pada tengah malam, dianggap sebagai gelandangan dan terancam denda 1 juta Rupiah sesuai pasal 432. Perihal pasal ini, sudah selayaknya suporter menolak RUU KUHP.

Mengapa?

Football for All

Bukan menjadi rahasia lagi apabila sepak bola kini tak lagi digandrungi oleh para lelaki. Sepak bola menjadi lebih diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari pria, wanita, tua, muda, hingga anak-anak kecil.

Sebutan bahwa sepak bola sebagai olahraga yang paling disukai di kolong langit, rasa-rasanya tak berlebihan. Jika ada yang berani mengadu jumlah penggemar sepak bola dengan olahraga yang lain, mungkin tak lebih dari orang kurang kerjaan yang menghabiskan hari-harinya untuk memandikan burung di teras rumah sambil memakan pisang goreng.

Stadion dan pertandingan sepak bola tak hanya menjadi ajang adu sebelas melawan sebelas. Kini, makna dari pertandingan sepak bola menjadi semakin luas. Pertandingan sepak bola kini menjadi hiburan bagi banyak orang dan menjadikan stadion laiknya tempat untuk rekreasi.

Bukan rahasia lagi kalau beberapa pertandingan sepak bola di Indonesia, digelar pada malam hari. Tak jarang baru bisa selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Belum lagi jika pertandingan tersebut molor karena ada hal-hal tertentu.

Bahkan, beberapa pertandingan sepak bola saat bulan Ramadan, digelar setelah Salat Tarawih atau sekitar pukul 20.00 WIB. Jika berjalan sesuai rencana, maka pertandingan baru bisa selesai pada pukul 22.00 WIB.

Bila nantinya RUU KUHP ini disahkan oleh DPR (oh, god), maka stadion tak lagi menjadi tempat rekreasi dan pertandingan sepak bola tak lagi menjadi hiburan bagi kaum papa. RUU KUHP nantinya secara tak langsung melarang perempuan untuk menonton pertandingan sepak bola di dalam stadion. Perempuan dipaksa untuk menepi dari hingar bingar pertandingan sepak bola dan duduk manis di dalam rumah.

Belum lagi saat ini FIFA berupaya keras untuk memajukan sepak bola wanita. Berbagai turnamen sepak bola wanita juga getol diselenggarakan oleh FIFA yang disebarkan kepada federasi-federasi di bawah FIFA.

Apa jadinya sepak bola wanita jika nanti RUU KUHP disahkan oleh DPR?

Bila nantinya RUU KUHP ini disahkan oleh DPR (oh, god), maka stadion tak lagi menjadi tempat rekreasi dan pertandingan sepak bola tak lagi menjadi hiburan bagi kaum papa. RUU KUHP nantinya secara tak langsung melarang perempuan untuk menonton pertandingan sepak bola di dalam stadion. Perempuan dipaksa untuk menepi dari hingar bingar pertandingan sepak bola dan duduk manis di dalam rumah.

Saatnya Suporter Bergerak

Saatnya kita melawan. Sepak bola bukan lagi milik satu alat kelamin tertentu. Sepak bola milik semua, football for all.

Keberadaan RUU KUHP ini adalah celah bagi masuknya diskriminasi terhadap kaum perempuan. Bukan sekadar demi keberadaan sepak bola dan wanita, tapi bagi semua orang.

Bonek mengawali untuk melawan. Lewat Bonek Campus, saat Persebaya Surabaya vs Bali United, teman-teman Bonek Campus melakukan aksi mendukung sikap para Mahasiswa di Indonesia. Mereka menyanyikan lagu “Ibu Pertiwi” saat pertandingan berjalan sepuluh menit.

Mungkin beberapa orang akan menyebutkan bahwa ini agenda politik dan tak semestinya suporter berada di jalan politik, namun tak selamanya ini dipandang sebagai agenda politik.

Ada satu kutipan menarik dari Presiden BEM UI. Kurang lebih begini: Agenda Mahasiswa memang ditunggangi, tapi ditunggangi oleh kepentingan rakyat.

Agenda perlawanan ini adalah agenda demi kepentingan rakyat. Toh sekali lagi, tak sedikit suporter yang juga berstatus mahasiswa. Lawan!

shares